Enter Your Email

Saturday, July 7, 2012

Cerpen: SEBATANG KARA


          Tanah di pekuburan umum itu masih basah ketika para pentakziah sudah pulang.Sementara Fandy masih duduk sambil sesekali menyeka air matanya.Ibu yang selama ini paling dia hormati dan cintai, tadi malam telah meninggal dunia, menghadap Tuhan Yang Maha Esa.
          Burung – burung camar terbang rendah dan sesekali mencelupkan paruhnya di air laut.Bu Indri dan suaminya masih berdiri dibelakang sambil menunggu Fandy.Kedua orang tua asuh itu sangat setia kepada Fandy.
          “Rasanya saya sudah tidak punya siapa – siapa lagi, Bu,” tiba – tiba Fandy berkata dengan suara agak berat.
          Bu Indri memegang lengan Fandy sambl mengelus rambutnya.“Jangan berkata begitu, anakku.Kami akan menjadi orang tuamu sampai kapanpun.”
          “Sampai saya mandiri ?” desak Fandy.

          “Sampai kapan pun. Aku tidak akan membatasi kamu, sebab pada hakekatnya engkau adalah anakku juga.”
          “Maksud Ibu ?” Fandy tidak mengerti.
          “Ya, rupanya engkau ditakdirkan untuk aku asuh dan menjadi anak kami. Tetapi kami bertekad untuk menjadi orang tuamu, bukan sebagai orang tua asuh.”
          Fandy memeluk Ibu Indri.Air mata di pipinya tak henti – hentinya mengalir sehingga membasahi bajunya.Sementara suami Bu Indri turut berduka atas kematian Bu Dian.
          Sebenarnya Fandy masih ragu – ragu apakah dia akan ikut Bu Tutik atau bertahan hidup dengan mandiri.Jika dia ikut Bu Indri,tentu tidak dapat bekerja seperti ketika ia masih hidup bersama Ibunya.Hal itu menjadikannya manja. Tetapi jika menolak kebaikan Bu Indri, terasa tidak enak.Pengorbanan Ibu Guru itu sudah sedemikian besarnya.
          Dari pengalaman hidupnya selama ini,banyak hal yang dapat Fandy petik. Ia biasa bekerja keras,  tidak suka menggantungkan pada orang lain.Ia jg bias hidup prihatin sehingga tidak suka berfoya-foya.
              ‘’Bolehkah saya menjajakan kue lagi,Bu?’’pinta Fandy kepada Bu Indri. ‘’Buat apa, Fandy?’’
‘’Agar saya tetap bisa bekerja.’’
               
Kuras tidak perlu ,Fandy.Pusatkan perhatianmu untuk belajar.Sebentar lagi eangkau akan ujian.’’
‘’Tapi,saya tidak enak kalau menganggur ,Bu’’
‘’Dirumahku engkau tidak mungkin menganggur.Engkau bisa belajar menggunakan komputer,nonton TV,dan memelihara kebun.’’
‘’Tapi, saya akan tidak bekerja,Bu’’
‘’Pada hakikatnya engkau bekrja juga.Memelihara kebun atau membatuku di rumah juga bekerja.’’
‘’Jadi,tidak harus menjajakan kue ,Bu?’’
Bu indri mengangguk
‘’Kalau begitu ,tolong carikan pekerjaan yang bisa saya lakukan.’’
 Bu indri tersenyum.
‘’Jangan khawatir.’’
Bu indri ternyata dapat memenuhi harapan fandy.Banyaknya pekerjaan yang dapat dilakukan Fandy.Misalnya,memelihara kebun mangga,maencatat keluar masuknya barang,dan sebagainya.
Kali ini Fandi tidak kalah sibuknya dengan sewaktu berada di desa neleyan.Bahkan mungkin boleh dikatakan sangat sibuk.Pekerjaan di rumah Bu indri tidak hanya satu, melainkan sangat banyak.Walaupun begitu, Bu Indri tidak pernah memaksa Fandy untuk bekerja.Semua itu hanya semata – mata menuruti keinginan Fandy.

No comments:

Post a Comment