Showing posts with label Cerpen persahabatan. Show all posts
Showing posts with label Cerpen persahabatan. Show all posts

Wednesday, July 4, 2012

Cerpen: SURAT SEORANG SAHABAT


Pukul sebelah kurang sepuluh sepuluh menit surat ini tiba. Terima kasih Pak,” kataku kepada Pak Pos  sudah tahunan lelaki separuh baya itu kukenal. Di mendorong dan mengayuh sepeda tuannya., meneruskan tugas, mengantarkan surat-surat dari rumah. Kudengar bunyi rantai sepedanya berderit-derit diiringi tarikan nafasnya setiap kali menggejot pedal di jalan-jalan yang mengajak. Sempat kulihat keringat berlelehan di lehernya.
Hai ! Surat siapa?’ Tanya wati, kakaku, sambil merebut surat dari tanganku. Dia berlari menjauhi. Matanya melihat ke alamat surat. O”, untuk nuning,” katanya sambil menyerahkan surat itu kembali padaku sambil tersenyum. “Dari si dia, ya?” ujarnya seraya menuju ruang tamu, melanjutkan kesenangannya, membaca.

Tuesday, January 24, 2012

Cerpen: PERSAHABATAN

Sanice Alfieta
Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang