Pukul sebelah kurang sepuluh
sepuluh menit surat ini tiba. Terima kasih Pak,” kataku kepada Pak Pos sudah tahunan lelaki separuh baya itu kukenal.
Di mendorong dan mengayuh sepeda tuannya., meneruskan tugas, mengantarkan
surat-surat dari rumah. Kudengar bunyi rantai sepedanya berderit-derit diiringi
tarikan nafasnya setiap kali menggejot pedal di jalan-jalan yang mengajak.
Sempat kulihat keringat berlelehan di lehernya.
Hai ! Surat siapa?’ Tanya
wati, kakaku, sambil merebut surat dari tanganku. Dia berlari menjauhi. Matanya
melihat ke alamat surat. O”, untuk nuning,” katanya sambil menyerahkan surat
itu kembali padaku sambil tersenyum. “Dari si dia, ya?” ujarnya seraya menuju
ruang tamu, melanjutkan kesenangannya, membaca.